Blogger Bertuah
Diberdayakan oleh Blogger.
Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Jangan Lakukan Hal Ini Usai Bercinta

Sikap terburu-buru meraih ponsel atau mendekati komputer usai bercinta, membuat pasangan berprasangka lain


Ide Muda, Seperti telah disampaikan sebelumnya, post-sex attention sangat penting untuk mempertahankan romantisme sekaligus membuat pasangan bahagia dan merasa dihargai. Kuncinya adalah untuk tidak segera meninggalkan pasangan usai bercinta, libatkan dia pada aktivitas-aktivitas kecil Anda. Hindari melakukan beberapa hal berikut usai bercinta bersama pasangan:

Meneruskan pekerjaan
Sikap terburu-buru meraih ponsel atau mendekati komputer usai bercinta, membuat pasangan berprasangka lain. “Jangan-jangan ia tidak menikmati hubungan seks karena konsentrasinya terbagi dengan pekerjaan?” Tak peduli sikap terburu-buru Anda dikarenakan pekerjaan yang mendesak atau untuk mengecek email dari rekan kerja, namun menyisakan waktu untuk memanjakan pasangan tetap dibutuhkan. Apalagi jika tujuan Anda hanya untuk mengecek situs sosial media ataupun messenger.

Berbenah sendiri

Ketika Anda merasa penampilan begitu berantakan usai bercinta, percayalah bahwa pasangan justru menyukai memandangi Anda dalam situasi yang seperti itu. Maka langsung bangkit dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi atau segera mengenakan pakaian usai bercinta, akan membuat ia merasa diabaikan dan bertanya-tanya apa kesalahan yang telah ia lakukan.

Langsung terlelap
Setelah melakukan aktivitas yang dahsyat, mungkin energi Anda terkuras habis dan hal pertama yang terlintas adalah tidur. Padahal, ketika Anda berdua berada di tempat tidur usai mengalami puncak kenikmatan, terselip harapan dari pasangan untuk menikmati saat-saat romantis bersama. Dapat dibayangkan, bagaimana jika harapan itu kandas melihat Anda yang tiba-tiba tertidur lelap?

Berbincang serius
Berbincang usai bercinta memang menyenangkan, namun tidak demikian jika Anda salah memilih topik. Suasana hati yang terbina baik justru akan berubah 180 derajat jika Anda membuka obrolan yang serius. Misal, tentang keluhan yang Anda rasakan di kantor atau si upik yang mulai bandel. So, fokuskan obrolan dengan pilihan topik ringan yang menyenangkan.





source
READ MORE - Jangan Lakukan Hal Ini Usai Bercinta

Pria Lebih Suka "Foreplay"?

Berbeda dengan perempuan yang terangsang melalui apa yang mereka dengar dan rasakan, pria justru lebih terstimulasi secara seksual melalui apa yang ia lihat


Ide Muda, Sebuah studi dari University of New Brunswick, Kanada, membeberkan fakta yang teramat penting. Ternyata pria diam-diam lebih menyukai dan membutuhkan foreplay daripada perempuan. Bayangkan saja, jika perempuan membutuhkan 13 menit untuk “bersiap-siap“, maka 18 menit adalah waktu foreplay yang ideal bagi para pria.

Dengan kata lain, sudah tidak zaman lagi terkungkung oleh pikiran bahwa hanya perempuan yang perlu “dipancing“ agar terangsang di ranjang. Atau, berprinsip bahwa perempuan harus menunggu inisiatif suami sebelum berhubungan seks. Padahal sebenarnya pria senang jika perempuan berinisiatif lebih dulu. Karena ini berarti Anda menginginkan keintiman sebesar ia menginginkannya. Artinya ini adalah kesempatan bagi para istri untuk memanjakan suaminya sebelum “bertempur“ di ranjang. So, berikan foreplay terbaik untuk suami dengan empat langkah mudah ini.

Singkat tapi menyengat
Semua orang tahu bahwa pesan yang singkat dan padat cenderung lebih dimengerti. Dalam kehidupan seks pun pesan singkat dan padat bisa membuat asmara makin menggelora. Rahasianya, buat pesan singkat yang menyengat libidonya.

Jika dulu Anda mengiriminya pesan pendek lewat SMS, sekarang Anda bisa dengan mudah mengirimkan pesan, voice chat, atau foto lewat fasilitas chat. Contohnya, di jam makan siang, kirimkan pesan pada suami yang berisi, “Aku mau kamu malam ini!“ atau langsung ke sasaran seperti, “Let’s make love tonight, Honey....“

Pesan semacam ini sudah pasti membuat si dia membayangkan betapa asyiknya pulang ke rumah di hari itu karena sang istri sudah menunggunya untuk berintim-intim. Bukan tak mungkin, lho, hari itu suaminya Anda justru pulang lebih cepat daripada hari biasa.

Butuh aksi
Bagi pria, pertanyaan tanpa kiasan lebih mudah dimengerti. Jika Anda masih pengantin baru atau mungkin belum tahu pasti apa yang suami suka, pancing ia dengan pertanyaan.

Anda harus bertanya apa yang ia suka, apa yang dibutuhkan, dan apa yang ia inginkan. Meski tak harus selalu di ranjang, pilihlah waktu yang pas untuk bertanya. Misalnya saat Anda sedang berduaan dan mengobrol santai. Segelas kopi bisa menjadi “teman“ untuk memulai obrolan semacam ini. Lalu tanyakan secara langsung, “Apa, sih, yang bikin kamu bergairah, sayang?”

Jika ternyata suami Anda lebih senang bermain dengan sentuhan di bagian tertentu pada tubuhnya, maka jangan ragu mengeksplorasinya. Gunakan tangan Anda dan goda ia dengan menyentuh lembut tubuhnya. Atau coba yang paling sederhana namun mematikan. Berbaringlah di pangkuannya ketika Anda berdua sedang menonton televisi. Pegang tangannya, cium jarinya satu per satu sembari memandang matanya. Percayalah, suami Anda pasti langsung mematikan televisi.

Bisikan mesra
Pria juga suka dengan kata-kata yang menggoda. Dibisikkan tepat di telinganya atau setengah berteriak diiringi desah nafas, tak jadi masalah. Istilah populernya, dirty talk. Meski dirty berarti kotor, tak berarti hal ini tabu dilakukan. Toh, sebagai istri Anda mempunyai kebebasan untuk memilih kata-kata yang ingin disampaikan padanya, kan? Lagi pula dirty talk  membantu Anda untuk membuat ia merasa sebagai juara di ranjang. Pria juga menggemari dirty talk karena foreplay semacam ini membuatnya merasa diinginkan oleh pasangannya.

Bila Anda masih “hijau” perihal dirty talk, buat saja pertanyaan yang hanya bisa dijawab hanya dengan kata, “Ya“ atau “Tidak“. Pertama, berikan ia isyarat bahwa Anda siap untuk berhubungan intim dengan melakukan rangsangan yang ia suka. Sembari melakukannya, tanyakan, “Kamu suka ini?“ Anda juga bisa menjelaskan secara rinci mengenai gerakan yang Anda lakukan selanjutnya. Jangan lupa, ucapkan yes or no question tadi dengan tatapan menggoda dan suara yang seksi. Reaksi yang akan didapatkan sudah pasti menakjubkan.

Dramatisasi
Pria adalah mahluk yang sangat visual. Berbeda dengan perempuan yang terangsang melalui apa yang mereka dengar dan rasakan, pria justru lebih terstimulasi secara seksual melalui apa yang ia lihat. Tugas Anda hanya “membumbui” dengan sedikit drama agar ia tercekat.

Taruhlah Anda spontan berniat berhubungan intim selepas bekerja. Perlihatkan sedikit demi sedikit kulit tubuh Anda dengan melepaskan busana kerja perlahan-lahan, sampai suami Anda menahan nafasnya. Jangan lupa tatap ia dengan pandangan yang paling seksi. Mainkan pula rambut Anda. Jika ini adalah “efek samping” dari pakaian kerja, tak terbayang betapa dahsyatnya jika Anda memakai lingerie.

Bicara soal lingerie, mintalah suami Anda untuk membelikannya. Berikan kesempatan bagi suami untuk memilihkan lingerie  yang ia sukai. Ia pasti lebih senang ketika lingerie  pilihannya sudah menempel di tubuh Anda hanya untuk ia seorang. 




READ MORE - Pria Lebih Suka "Foreplay"?

Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme

Sampai saat ini, baru 30 persen perempuan yang mengalami orgasme saat bercinta dengan pasangannya.


Ide Muda, Orgasme merupakan salah satu hal yang paling ingin dicapai saat bercinta. Namun, sayangnya masih banyak perempuan yang belum mampu mencapai orgasme saat bercinta dengan pasangannya, termasuk di Indonesia.

"Dari banyak penelitian, ditemukan fakta bahwa saat bercinta hanya para pria saja yang sering mencapai orgasme," tukas Firliana Purwanti, Program Officer Hak Asasi Manusia & Demokratisasi di Hivos Asia Tenggara sekaligus penulis The 'O' Project dalam acara Young Caring Profesional Awards di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diakui Firliana melalui penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sekitar perempuan yang menikmati saat-saat bercinta dan mencapai orgasme hanya berkisar 30 persen saja, sedangkan pria yang bisa mencapai orgasme berkisar 70 persen. Angka ini termasuk cukup mengejutkan karena sebenarnya dalam bercinta seharusnya bisa dinikmati oleh kedua belah pihak sehingga mereka bisa sama-sama mencapai orgasme.
Firliana mencoba membuktikan penelitian di Amerika Serikat terhadap masyarakat Indonesia. Ia pun melakukan survei terhadap 16 orang perempuan di Indonesia tentang kepuasan orgasme saat bercinta, bertajuk The 'O' Project.

Survei ini dilakukan dengan metode wawancara terhadap perempuan di Aceh, Jakarta, Surabaya,Makassar dan beberapa kota lainnya dari berbagai status sosial dan pekerjaannya. Melibatkan perempuan lajang, sudah menikah, punya anak, lesbi, transgender, pekerja seks komersil, mengidap HIV, dan juga perempuan yang pernah disunat.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia mengungkapkan bahwa para perempuan Indonesia juga mengalami kecenderungan yang sama. Artinya, hanya 30 persen perempuan Indonesia yang mengalami orgasme. Ia mengungkapkan bahwa rendahnya persentase perempuan yang bisa mencapai orgasme dalam kehidupan percintaannya ini banyak disebabkan oleh pola pikir yang salah.

"Banyak perempuan Indonesia yang mengalami the cinderella syndrome, yaitu sebuah kondisi dimana mereka diajarkan untuk selalu menunggu dan bersabar sembari menunggu seorang pangeran datang menjemput," tukasnya.
Tokoh Cindrella ini lekat dengan image perempuan baik-baik yang pada akhirnya akan menemukan seorang pangeran tampan sebagai pasangannya. Yang terjadi kemudian, perempuan cenderung pasrah dan pasif menunggu. Dianggap sebagai perempuan baik-baik, menjadi sebuah prestasi tersendiri. Lain halnya dengan pria yang tumbuh sebagai pribadi dengan wawasan lebih luas dan bebas mengekspresikan dirinya, karena pria cenderung dibolehkan untuk menjalani apa saja dalam hidupnya.
Menurut Firli, hal inilah yang menyebabkan adanya pola pikir yang salah dalam kehidupan seksual seorang perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan harus selalu pasif dan hanya laki-laki yang boleh aktif akan membuat perempuan kurang merasakan kepuasan dalam kehidupan seksualnya.

Sedikitnya jumlah perempuan yang menikmati orgasme juga disebabkan sikap perempuan yang selalu mendahulukan kesenangan seksual pasangan daripada dirinya sendiri. Kesulitan untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan seksualitasnya juga menghambat perempuan Indonesia untuk menikmati aktivitas seksual bersama pasangan sehingga ia lebih sulit orgasme dibandingkan pria.
READ MORE - Hanya 30 Persen Perempuan Alami Orgasme

Rambut Kemaluan Tak Boleh Dicukur?

Karena fungsinya untuk melindungi kulit, ada yang menganjurkan agar kita tidak mencabut atau mencukur rambut kemaluan.

Ide Muda, Ada banyak teori yang mengatakan apa sesungguhnya fungsi rambut kemaluan pada manusia. Salah satunya, untuk merangsang pasangan secara seksual melalui feromon. Cara kerja feromon ini memang tidak jelas karena tidak dapat dirasakan dengan sadar. Teori lainnya mengatakan, rambut kemaluan dipercaya dapat menghangatkan alat kelamin, mencegah kotoran masuk ke dalam vagina (bagi perempuan), melindungi kulit terhadap gesekan tubuh, juga memberikan perlindungan iritasi saat berhubungan seksual.

Karena fungsinya untuk melindungi kulit, ada yang menganjurkan agar kita tidak mencabut atau mencukur rambut kemaluan. Salah satu penyebabnya adalah karena bisa menimbulkan lubang kecil (luka iritasi) pada kulit. Lubang atau luka kecil ini akan menjadi pintu masuk kuman atau jamur. Terutama pada perempuan dengan kondisi vagina yang mudah sekali lembab. Kondisi ini pula yang nantinya bisa menyebabkan infeksi di kulit daerah intim Anda.

Tak sedikit juga yang percaya bahwa semakin sering mencukur rambut kemaluan, maka pubic hair akan tumbuh lebih cepat, lebih tebal, dan warnanya menjadi lebih gelap. Padahal mitos ini keliru. Pasalnya, mencukur pubic hair tidak memengaruhi pertumbuhan rambut. Yang berbeda hanya kondisi bentuk ujung rambutnya saja karena ujungnya yang lebih tipis tadi sudah dicukur. Faktanya, rambut kemaluan yang tumbuh kembali akan kembali tumbuh persis seperti keadaan sebelumnya.

Mitos lain menyebutkan mencukur rambut kemaluan, membuat area vagina gatal dan benjol. Padahal, bercukur justru membantu kulit terlihat dan terasa halus dengan menghapus lapisan atas sel-sel kulit mati.

Jangan menelan mentah-mentah pula mitos yang mengatakan mencukur pubic hair akan membuatnya tumbuh ke dalam dan menimbulkan semacam bintil merah mirip jerawat. Kalaupun ini terjadi, biasanya diakibatkan cara mencukur yang salah. Hindari dengan menempelkan handuk hangat pada vagina sebelum bercukur dan gunakan loofah setelah bercukur.
READ MORE - Rambut Kemaluan Tak Boleh Dicukur?

Siapa yang Lebih Berisik Saat Bercinta?

Meskipun pria sering disebut lebih ekspresif dalam bercinta, ternyata wanita jauh lebih berisik di atas ranjang.


Suara rintihan atau desahan napas yang terdengar saat bercinta rasanya memang makin menambah gairah. Dan, meskipun pria sering disebut lebih ekspresif dalam bercinta, ternyata wanita jauh lebih berisik di atas ranjang ketimbang pria, begitu kesimpulan dari toko alat peraga seks di Inggris, Lovehoney.
Setelah menyurvei 1.171 orang, Lovehoney mendapati bahwa 94 persen wanita mengakui bahwa mereka lebih berisik daripada pasangannya saat berhubungan seks. Sebaliknya, 70 persen pria juga mengakui bahwa pasangan merekalah yang lebih berisik dalam sesi bercinta.
"Menarik juga mendapati bahwa wanita ternyata lebih gaduh. Tidak ada penjelasan ilmiah mengapa seseorang bisa lebih berisik di atas ranjang. Hal ini tampaknya bersifat pribadi. Beberapa orang bisa berteriak kencang saat nonton konser, yang lain bisa nonton tanpa bersuara sedikit pun. Tetapi, tidak berarti mereka tidak menikmati konser itu, kan?" kata pakar seks, Tracey Cox.
Namun, para pakar menduga bahwa kegaduhan wanita saat berhubungan intim ini disebabkan karena mereka lebih sering berpura-pura menikmati atau mencapai orgasme daripada pria. Atau, mereka merasa harus memberikan bukti bahwa mereka menikmati sesi tersebut.

"Apa pun alasannya, kami perlu menegaskan bahwa semakin berisik seseorang di atas ranjang, tidak berarti mereka makin menikmatinya," katanya lagi. "Berisik juga tidak berarti bahwa Anda pecinta yang baik, meskipun saya mendukung fakta bahwa kegaduhan merupakan sebuah cara untuk mengomunikasikan sesuatu."
Pernyataan Cox ini nyaris sejalan dengan riset yang dilakukan oleh University of Central Lancashire beberapa waktu lalu, yang menyebutkan bahwa suara yang dikeluarkan oleh perempuan saat bercinta tak selalu menunjukkan bahwa ia tengah orgasme. Suara-suara yang dikeluarkan oleh kaum perempuan saat bercinta lebih dilakukan untuk membantu pasangannya mencapai klimaks.

Survei Lovehoney juga menunjukkan bahwa hanya 51 persen wanita yang mencapai orgasme melalui penetrasi. Yang lebih mengejutkan, 76 persen wanita mencapai orgasme melalui seks oral, dan 95 persennya mencapai orgasme secara teratur ketika menggunakan sex toys! Alat peraga seks rupanya menjadi sarana terbaik bagi wanita untuk mencapai klimaks (34 persen).

"Kebanyakan wanita rupanya merasa lebih mudah untuk mencapai orgasme seorang diri ketimbang bersama pasangan, bukan hanya karena mereka lebih rileks saat sedang sendiri dan tidak merasa tertekan untuk menunjukkan kemampuannya, melainkan juga karena bisa menggunakan teknik yang terbaik, yaitu langsung melalui stimulasi klitoral," lanjut Cox.
Karena itu, tidak mengherankan juga wanita yang mengalami seks terbaik melalui penetrasi hanya kurang dari seperempatnya (23 persen). Menurut Cox, 82 persen wanita menginginkan seks oral lebih sering karena seks oral menjadi cara yang paling efektif dan menyenangkan setelah vibrator untuk meraih orgasme.




source
READ MORE - Siapa yang Lebih Berisik Saat Bercinta?

Entri Populer